Sabtu, 28 Juni 2014

SEJARAH TULISAN ARAB


December 7, 2010
Bismillahirrahmaanirrahiim
Penulisan Pra Islam
Penulisan Era Islam
Apakah Rasulullah saw memang tidak bisa membaca dan menulis ?
1. Penulisan ( Al Kitabah ) Pra Islam
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Arab dahulunya adalah bangsa  yang Ummy  (buta huruf) yaitu tidak bisa menulis dan menghitung.  Sebagaimana yang telah di jelaskan di dalam
al Qura’n :
Artinya : “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(QS.  Al Jumuah : 2 )
Hal seperti itu, tidak berarti kita memukul rata bahwa semua orang tidak bisa membaca dan menulis, akan tetapi di situ ada beberapa orang dari kalangan suku Quraisy yang belajar tulis- menulis sebelum datangnya Islam. Hal ini seakan-akan menjadi sebuah tanda-tanda ( Irhashot ) akan datang Nabi akhir zaman. Untuk mencatat dan membukukan wahyu yang turun kepada Rasulullah Sallahu ‘Alahi wa Sallam. Sebab penulisan adalah salah satu media paling penting untuk menjaga otentitas sebuah kitab suci.
Penduduk kota  Makkah mempelajari tulis menulis dari Harb bin Umayyah bin Abdu Asy Syams. Akan tetapi disana ada perbedaan, Harb bin Umayyah belajar dari siapa ? maka ada beberapa riwayat yang menyebutkan mata rantai orang yang pertama kali mempelajari tulis-menulis dikalangan penduduk Makkah.
Diantara riwayat ini adalah riwayat Abu Amr Ad Dani, ia menyebutkan bahwa ia mempelajari tulis menulis dari Abdullah bin Jad’an. Dari sini, Ziyad bin An’am pernah bertanya kepada Ibnu Abbas :  “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas : Wahai Kaum Quraisy, apakah kalian dahulu pada masa jahiliyah menulis dengan bentuk tulisan arab seperti ini ? Kalian menggabung tulisan dan memisahnya, secara huruf Hijaiyah dengan Alif, laam dan mim, demikian pula secara bentuk ? Ibnu Abbas menjawab ” Iya, aku bertanya lagi :”Siapa orang yang mengajari kalian ? Harb bin Umayyah. Aku bertanya :”Siapakah orang yang mengajari Harb bin Umayyah ? ia menjawab :”Abdullah bin Jad’an. Aku bertanya :”Siapakah orang yang mengajari Abdullah bin Jad’an ? Penduduk Anbar[1] Aku bertanya :”Siapakah orang yang mengajari penduduk Anbar ? Ia menjawab : Orang yang tak di duga datangnya dari penduduk Yaman. Aku bertanya : “Siapakah yang mengajari mereka ? Ia menjawab : al Khaljan bin Al Muham, ia adalah seorang penulis Nabi Hud, Nabi Allah Azza wa Jalla.
Adapun penduduk kota Madinah, di antara mereka ada ahlul kitab dari kalangan orang Yahudi. Tatkala Rasululah saw memasuki kota madinah, di sana terdapat orang-orang yahudi yang mengajari anak-anakanya belajar tulis-menulis. Di sana ada beberapa orang yang menekuni bidang tulis-menulis, di antara mereka adalah Mundzir bin Amr, Ubay bin Wahb, Amr bin Said dan Zaid bin Tsabit yang mendapatkan mandat dari Rasulllah saw untuk mempelajari tulis-menulis dari orang-orang Yahudi. [2]
2.  Penulisan setelah datangnya Islam
Agama Islam pun mulai bersinar dari penjuru kota Makkah, ia datang untuk menghapus kebodohan yang sedang melanda di bumi Arab ketika itu. Kebobrokan akhlak, dan kebodohan ilmu, seakan-akan menjadi satu mata rantai yang tidak terlepas. Islam datang untuk menghapus itu semua. Jika anda masih ragu, bukankah Allah Ta’ala menurunkan ayat pertama kalinya kepada diri Rasulullah Sallahu ‘Alahi wa Sallam dengan Firman-Nya :
Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran Qalam[3], 5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. ( QS Al ‘Alaq : 1-5 )
Bahkan ada sebuah ayat yang menjelaskan bahwa Allah Ta’ala bersumpah dengan Qalam ( pena ), Ia berfirman :
Artinya : 1.  Nun, demi qalam ( pena ) dan apa yang mereka tulis, 2.  Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. ( QS: Al Qalam : 1-2 )
Di dalam ayat ini dengan jelas akan agungnya nilai sebuah tulisan dan karakteristik yang dikandungnya.
Apabila kita membalik lembaran sejarah Nabi kita akan melihat sebuah peristiwa yang indah dan mencengangkan sekali dizaman terjadinya persitiwa tersebut. Dan zaman sesudahnya..hingga zaman kita sekarang…yaitu peristiwa  tawanan perang badar
Rasulullah  saw meminta kepada tawanan musyrik yang menginginkan tebusan dirinya dari tawanan dengan mengajari 10 orang muslim untuk membaca dan menulis!…hal ini sangat aneh sekali…khususnya di zaman itu yang berkembang pesat buta huruf ….
Akan tetapi membaca, menulis dan belajar adalah kebutuhan pokok setiap umat yang menginginkan kebangkitan dan kemajuan pesat.
Jika kita melihat kondisi kaum muslimin pada masa perang Badar kita dapati mereka sangat membutuhkan harta. Dan perlu untuk menjaga tawanan bertarget untuk menekan quraisy atau menjaganya agar digunakan sebagai pertukaran tawanan  jika ada muslim yang ditawan oleh mereka. Akan tetapi Rasulullah saw  memikirkan tentang apa yang terpenting dari itu semua, yaitu mengajari orang muslim membaca…ini adalah point penting dalam ide Rasulullah saw yaitu membangun umat Islam sebagai bangunan yang kokoh….hingga sahabat yang bisa membaca menawarkan kepada sahabat yang lain untuk mengajari mereka…lihatlah kepada Zaid Bin Tsabit RA-yang banyak memberikan peranan penting kepada sahabat lainnya dan ia hampir selalu dekat dengan Rasulullah saw karena ia tekun membaca dan menulis…hingga pada akhirnya ia menjadi seorang penulis Wahyu, penulis surat dan penerjemah bahasa Suryaniyah dan Ibrani padahal ketika itu ia hanya berumur 13 tahun …
Dan kita semua tahu Abu Hurairah Ra bagaimana hafalannya ? ia adalah sahabat yang paling banyak hafal hadits Rasulullah saw,  kita lihat apa yang dikatakan tentang dirinya sebagaimana yang ada di Bukhari:
“Tidak ada seorang pun dari sahabat nabi yang paling banyak hafalannya kecuali aku”.
Walaupun demikian tinggi derajat ini, akan tetapi beliau meletakkan Abdullah bin Amr bin Ash  RA diatas derajat beliau, mengapa ?sebab Abdullah bin Amr bin ash bisa membaca dan menulis….Abu Hurairah RA berkata : “kecuali Abdullah bin Amr…sebab ia bisa menulis dan aku tidak pandai menulis”. ))
Dari sikap diatas-dan selainnya- kecintaan kepada bacaan mulai ditanamkan di hati kaum muslimin. Perpustakaan-perpustakaan Islam pada sejarah Islam termasuk perpustakaan paling besar dan agung  di dunia. Bahkan lebih agung secara mutlak  selama beberapa kurun lama. Seperti perpustakaan Baghdad, Cordoba, aspiliah, Granada, kairo, Damaskus, Tarablus, Madinah dan Quds.
3. Apakah Rasulullah saw memang tidak bisa membaca dan menulis ?
Memang terjadi perbedaan antara ulama mengenai permasalahan satu ini, pakah Rasulullah saw memag tidak bisa membaca dan menulis ? ada yang berpendapat bahwa rasulullah saw memang tidak bisa membaca dan menulis, ada juga yang berendapat bahwa Rasulullah saw bisa membaca dan menulis. Dari dua pendapat ini, sepertinya di sana terjadi kontradiksi yang nyata.
Namun di antara dua pendapat itu, kita bisa menyatukan ke dalam sebuah pendapat yang pada akhirnya tidak ada kontradiksi yang nyata. Memang Rasulullah saw pada awalnya tidak bisa membaca dan menulis. Hal itu beliau alami sebelum wahyu yang berupa Al Qur’an turun dari langit. Sebab jikalau Rasulullah saw bisa membaca dan menulis sebelum turunya Al Qur’an, maka orang-orang musrytik akan menyebarkan syubhat dan fitnah bahwa Al Qur’an adalah karangan Rasullas saw belaka. Dengan itu maka, pengakuan beliau sebagai nabi akan runtuh.
Beliau pada akhirnya, bisa membaca dan menulis tatkala Al Qur’an telah turun semua pada diri Rasulullah saw dan orang-orang Arab tidak mampu lagi untuk menandingi Al Qur’an. Dari sini, Allah Ta’ala berfirman :
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). 49.  Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu[4] dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim. ( QS Al Ankabut : 48-49 )
Al Allamah Al Alusy berkata setelah beliau menafsirkan ayat ini :
“Ada perbedaan, apakah Rasulullah saw setelah diangkat menjadi Nabi bisa membaca dan menulis apa tidak ? ada yang berpendapat bahwa beliau tidak pandai menulis. Pendapat inilah yang diambil oleh Al Baghawi di dalam Tahdzibnya, ia berkata :”Ini adalah pendapat yang paling benar.” Ada yang berpendapat bahwa beliau bisa menulis setelah ia tidak bisa mengetahuinya.’
Diantara hadits yang menjelaskan ahwa Rasulullah saw bisa menulis adalah hadits dari Shahih Bukhari  tentang perjanjian Hudaibiyah :”…Lalu Rasulullah saw mengambil tulisan, beliau tidak pandai menulis, lalu beliau menulis :”Inilah apa yang di putuskan oleh Muhammad bin Abdillah….
Namun orang yang tidak sependapat dengan pednapat ini menyanggahnya dengan sebuah hadits shahih. Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya kami adalah kaum ummy ( buta huruf ), kami tidak bisa menulis dan menghitung”.
Al Allamah Al Alusy mengomentari hadits ini bahwa sabda Nabi saw : Sesungguhnya kami adalah kaum Ummy ( buta huruf ), kami tidak bisa menulis dan membaca”, bukanlah sebuah dalil yang menjelaskan bahwa keadaan beliau saw selalu tidak bisa menulis, barangkali hal itu di anggap bahwa ketika beliau di utus menjadi Rasul, mayoritas dari penduduk arab ketika itu buta huruf, tidak bisa menulis dan mengitung.
Di antara dalil-dalil yang menguatkan bahwa beliau pada akhir hayatnya bisa membaca dan menulis adalah :
1. Riwayat Ibnu syaibah dari Auf : Rasulullah saw tidak meninggal dunia hingga ia bisa menulis dan membaca.” Maksudnya pada akhir hayat beliau, Rasulullah saw bisa membaca dan menulis.
2. Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah[5], maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, satu kebaikan bernilai sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ( Aliif, Laam, Miim ) satu huruf. Akan tetapi Alif adalag satu huruf, Lam adalah satu huruf dan mim adalah satu huruf. ( HR. Tirmidzi )
3. Ketika kita membalik sejarah hidup Rasulullah saw, kita akan medapatkan sebuah kisah yang menjelaskan bahwa beliau pernah menyetorkan hafalan Al Qur’anya kepada Malaikat Jibril sebanyak dua kali sebelum beliau wafat. Tidak di ragukan lagi bahwa pada waktu itu Al Qur’an telah di turunkan seluruhnya kepada Nabi Muhammad saw. Lalu beliau menyetorkan hafalan Al Qur’annya dari awal hingga akhir kepada malaikat Jibril. Pada waktu setoran terakhir, yaitu setoran yang kedua, Zaid bin Tsabit ( Penulis Wahyu ) hadir bersama Rasulullah saw untuk mencatat wahyu sesuai dengan apa yang disetorkan oleh Nabi. Dari sini, di tulislah mushaf pada masa Abu Bakar dan masa Utsman bin Affan.
Dari kisah di atas, sudah bisa kita tebak dan kita nilai bahwa Rasulullah saw pada akhirnya telah mampu membaca dan menulis.
4. Ada lagi sebuah peristiwa penting di dalam perjalan hidup Rasulullah saw yang menunjukkan bahwa Islam datang ke negeri Arab khusunya dan alam raya pada umumnya, peristiwa itu adalah pengiriman surat kepada Raja dan pembesar kaum ketika itu. Salah satunya adalah sebuah surat yang di kirimkan kepada raja Mukaukis, pembesar Qibthi yang berbunyi :
Bismillahirrahmaanirrahiim
Dari Muhammad bin Abdullah
Kepada al Mukaukis
Pemimpin agung Qibthi
Kesejahteraan bagi siapa yang mengikuti Hidayah
Ammab ba’du :
Sesungguhnya aku mengajak engkau kepada Islam. Masuklah kepada agama Islam, niscaya  engkau selamat. Allah akan membalasmu dengan dua pahala. Jika engkau berpaling, maka dosa Qibthi ( orang Mesir ) disebabkan olehmu. (( Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
Kita saksikan peristiwa ini, jikalau pada waktu itu tidak ada seorang pun yang bisa membaca dan menulis, maka bagaimana surat ini bisa tertulis dengan sempurna untuk di kirimkan kepada Raja Mukaukis sebagai langkah awal dakwah beliau ke seluruh alam ? bukankan mereka termasuk diri Rasulullah sw bisa membaca dan menulis ?
Dari dalil-dali di atas kita bisa menyimpulkan bahwa setelah Rasulullah saw di utus sebagai nabi dan Rasul terakhir dan cahaya Islam terpancar dari kota Makkah, maka dari situ terhapuslah buta huruf yang selama ini melanda bumi arab.
Cairo, 7 Desember 2010

[1] . Salah satu kota dI Irak
[2] . Abdul Adhim Az Zurqani, Manahilul Irfan fi Ulumuil Qur’an, Juz. I, hal. 305
[3]. Pada asalnya qalam di dalam bahasa arab berarti pena, maksud qalam di sini,  Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[4] . Maksudnya: ayat-ayat Al Quran itu terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.


…………….








        



Tidak ada komentar:

Posting Komentar