Rabu, 20 Agustus 2014

                               

      Kisah nyata berikut ini adalah ditulis berdasarkan pada kesaksian penulis sendiri, dengan mata kepala penulis sendiri. Kisah ini menuturkan tentang tatakrama seorang santri sekaligus pelayan (Khodim) bernama Abu Amin, ada yang menyebutkan Bunamin dan ada pula yang memanggilnya Bunyamin. Tapi, sehari-hari ia dipanggil dengan Amin. 
     Hingga saat ini penulis belum mengenal nama ayahnya, ibunya bernama Ambani, wafat tahun 2006 setahun sebelum wafatnya Amin tahun 2007.
        Sejak umur 15 tahun, Amin telah mengabdikan dirinya sebagai khaddam atau pelayan tetap almarhum KH. Moh. Amir Ilyas (wafat tahun 1996), salah seorang ulama waliyullah, mukasyafah di rumah tempat tinggal beliau di desa Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Guluk-Guluk dikenal dengan desa sekaligus Kecamatan santri, karena di desa ini terbilang kurang lebih dari 15 Pesantren dan Madrasah yang jumlah santrinya lebih dari 15.000 an dengan penduduk sebanyak KL. 40.000 orang. Mayoritas ekonomi penduduknya sebagai petani jagung, kedelai dan tembakau. Di desa inilah almarhum KH. Moh. Amir Ilyas hidup bersama keluarga dan 4 putera-puterinya juga bersama seorang Khaddam bernama Amin itu. KH. Amir seorang ulama besar, pengasuh salah satu Pesantren terbesar di Madura bernama Pondok Pesantren Annuqayah. Semasa hidupnya hanya pengabdikan dirinya pada perkembangan pendidikan di Pesantren yang ia asuh. Selain juga ia sebagai musytasyar NU Kabupaten Sumenep dan Syuriyah Partai Persatuan Pembangunan Sumenep.
      Amin yang berbadan semampai atau langsing memang telah nampak tersirat diwajahnya tanda keikhlasan mengabdi kepada gurunya sejak ia masih kanak-kanak. Ia tak pernah mengabaikan patuah-patuah gurunya. Ia senantiasa senang dan merasa dihargai, ketika guru memerintahkan apa saja kepadanya. Ia tak pernah mengeluh dan bimbang untuk mengatakan IA terhadap semua yang dikehendaki gurunya dalam kondisi apapun.
       Pada suatu malam, Kyai Amir terganggu kesehatannya mendadak dan membutuhkan bantuan Amin untuk membelikan obat di Puskesmas kl. 1 km jaraknya dari rumah beliau. Jam ketika itu menunjuk pukul 01.00 malam. Kebiasaan di desa, saat seperti sudah sepi senyap, apalagi PLN ketika itu belum masuk di desa tersebut. Jadi kebanyakan penduduknya istrihat, hingga pagi hari. Amin yang sedang tidur nyeyak dibangunkan oleh salah seorang santri Kyai Amir yang lain agar menghadap beliau. Dengan tanpa ba bi bu ba, Amin langsung mengambil baju dan kopiyahnya beranjak menunju Kyai Amir. Sesampainya dihadapan kyai, ia menyuruhnya untuk membelikan obat ke Puskesmas dengan berjalan kaki. Selang satu jam lamanya, Kyai Amir menunggu, ia tak kunjung datang juga. Rasa waswas tersirat dalam benak kyai,"jangan-jangan ia (Amin) ada kendala dalam perjalannnya", begitu perasaan kyai. kini sudah 2 jam lewat  ia juga belum datang, rasa waswas semakin kuat menekan batinnya. Tapi beberapa menit kemudian, ia datang juga. "Aduuuh, Amin, kok lama sekali", tanya kyai dengan bahasa Madura halus yang sangat kental. "Maaf kiyai, obat tersebut tidak ada di Puskesmas. Jadi terpaksa saya mencari di toko-toko umum. Itupun gak ada toko yang buka di sekitar Puskesmas, maka saya pergi ke Pasar Ganding, mungkin di sana ada, tapi ternyata tidak toko yang buka. Tapi Alhamdulillah, saya menemukan obat tersebut di sebuah toko milik teman saya di daerah Larangan, Ganding, dan saya membangunkan pemiliknya hanya kepentingan membeli tablet itu", begitu bilangnya dengan sangat sopan dihadapan kyai Amir yang menunggunya selama kl. 2 jam lamanya.
      Peristiwa di atas terjadi pada akhir tahun 80-an, katika itu PLN masih belum normal 100 % menyala di desa Guluk-Guluk. Kadang-kadang menyala, kadang-kadang padam. Maklum, masih menggunakan jenset dan belum menjangkau ke seluruh kampung di desa ini. Begitu pula mobil angkutan desa masih jarang adanya, lebih-lebih pada tengah malam. Namun semangat pengabdian yang ikhlas dan luar biasa bagi Amin tak pernah padam dan surut walau kondisi seperti ini.
       Setelah obat tablet yang hanya dua biji itu adanya diserahkan kepada kyai Amir, kini Amin tidak kembali melanjutkan tidur di rumahnya lagi, tapi ia mengambil air wudhu' untuk menunaikan shalat Tahajjud dan mengaji Al Qur'an di Musholla milik Kyai Amir yang kini bernama "Msuholla Al Amir" terletak di pekarang rumah kyai Amir. Selanjutnya ia berdzikir sampai tiba waktu shalat subuh berjama'ah bersama beberapa santri lainnya dengan Imam-nya adalah kyai Amir.
       Kisah terakhir yang paling menyentuh kalbu penulis adalah keihklasan dan kesabarannya dalam menjalankan semua perintah Kyai Amir sekeluarga. terbukti ketika dia disuruh menyampaikan surat undangan kepada 150 orang kepada masyarakat di desa Guluk-Guluk yang rumahnya berlainan kampung. Ia tidak minta bantuan kepada orang lain, karena ia merupakan amanah yang harus dia jalankan sendiri. Ada sebuah desa yang jauh dari rumah tempat tinggalnya, kira-kira 2 km jaraknya, yaitu kampung minumih dan bahkan ada yang di luar kecamatan Guluk-Guluk, yaitu Pragaan. Sang Kyai lupa memberi uang ongkos transport naik angkot, dan Amin mengira bahwa ia dilarang naik angkot, maka ia menyampaikan surat undnagan tersebut kepada 150 orang dilakukan selama satu hari dan setengah malam dengan berjalan kaki dari desa ke desa atau kampung ke kampung. Ia memulai dari kampung yang paling jauh kemudian yang paling dekat. Alhamdulillah, semua amanah itu dilakukan dengan sempurna dan nampak di wajahnya perasaan sumeringah (senang dan berseri-seri), karena ia telah melaksanakan perintah kyai dengan sempurna dan baik, walaupun harus dilalui dengan cukup melelahkan. Namun ia tak mengeluh apalagi merasa berat melaksanakan amanah tersebut. Kini Pak Amin sudah meninggalkan kita sejak 7 tahun yang silam. Tinggal namamu terukir dalam kalbu kami, rasa ilkhlas yang tertanam dalam jiwamu menjadi kenangan manis yang tak pernah kami lupakan dan semoga kami dapat menirumu, Amin. Kini Pak Amin itu dikenal masyarakat sekitarnya dengan sebutan manusia tak bertulang, karena kelemah lembutannya dan kesiapannya melaksanakan perintah Kyia Amir sang Waliyullah itu dengan ikhlas penuh, kapanpun dan dimanapun. Itulah hakikat Akhlakul Karimah. Selamat jalan Pak Amin, semoga Allah akan memberi balasan tempat yang menyenangkan buat kamu sebab pengabdianmu yang tak kenal situasi dan kondisi.  (Pen. Muhsin Amir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar