Senin, 25 Agustus 2014

Term of Reference (ToR) Pembelajaran Kitab Turots Cepat dan Tepat Teknik “Thoriqoh Manzilah”



Latar Konseptual

Yayasan Sosial dan Da’wah Islamiyah AL AMIR yang berlokasi di Jl. KH. Moh. Amir Ilyas, desa Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep Madura, sejak tahun 2007 mengembangkan salah satu program Da’wah Tarbiyah-nya kepada masyarakat, khususnya di Kabupaten Sumenep dengan menyebarkan jasa tenaga pengajar atau tutor pembelajaran ketab kuning (ktab turots), cepat dan tepat metode “Thoriqoh Manzilah” bekerja sama dengan beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur, khususnya di Madura.
Teknik “Thoriqoh Manzilah” untuk siswa/wi lanjutan ini adalah sebuah pedoman pembelajaran membaca dan memahami kitab kuning (kitab turots) karya ulama-ulama salaf yang bersifat Sistematis, Aplikatif dan Evisien yang sasaran kegiatannya adalah para siswa-siswi Pondok Pesantren, minimal berpendidikan Aliyah atau bagi mareka yang telah memiliki dasar pengetahuan Nahwu dan Shorrof.
Yang dimaksud dengan Sistematis adalah terarah dan terperogram RPP dalam mencapai indikator  yang di inginkan.  Aplikatif  adalah mengutamakan praktek membaca dan memahami isi dari kitab kuning, khususnya kitab  Fathul Qorieb  yang menjadi referensi pokok/wajib dalam pembelajarannya serta mampu menguasai dan hafal kaidah-kaidah Nahwiyah dan Shorfiyah dengan benar tanpa dihafalkan dengan dipandu oleh  seorang guru/tutor yang professional. Sedangkan yang dimaksud dengan Evisien  adalah dilakukan dalam batas  waktu tertentu secara intensif, minimal 3 – 6 bulan untuk mencapai target dan indikator yang ditetapkan. Insya Allah dengan teknik pemblejaran seperti ini, anak-anak didik akan segera bias membaca dan memahami kitab kuning dengan baik dan benar.

Nama Kegiatan
Kegiatan ini bernama : “ Pembelajaran membaca dan memahami kitab kuning cepat dan tepat, teknik “Thoriqoh Manzilah”

Waktu, Tempat Kegiatan dan Jumlah Peserta
Waktu kegiatan ini akan dilakasanakan selama 4 jama atau 2 kali tatap muka dengan durasi per-jam 45 menit bertempat di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto yang akan di ikuti oleh santri putra atau putri di Pondok Pesantren Amanatul Ummah berjumlah : 25 – 30 peserta dalam satu ruang atau kelas dengan seorang tenaga tutor.

Tujuan Kegiatan
1.        Untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan para peserta dengan harapan memperoleh Ma’unah dan Ridho Allah SWT.
2.        Untuk  memberi motivasi kuat kepada para peserta tentang pentingnya belajar kitab kuning (kitab turots) dalam rangka mengenal sumber-sumber Hukum Islam secara sempurna.
3.        Untuk menghidupkan kembali semangat belajar para peserta terhadap kitab kuning (kitab turots) yang dianggap sulit dan membosankan, sehingga dengan teknik Thoriqoh Manzilah ini yang dibuat secara sistematis dan mengutamakan praktek langsung, diharapkan mereka bias membaca dan memahami isi kandungan kitab kuning tersebut serta hafal kaidah-kaidah nahwiyah dan shorfiyah-nya dengan baik dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Target Kegiatan
Target  atau idnikator  yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran ini adalah para peserta bisa membaca, memahami terhadap kandungan isi kitab kuning (kitab turots dengan banar dan baik serta hafal kaidah-kaidah Nahwiyah dan Shorfiyah di luar kepala tanpa di hafalkan, tapi hanya dengan cara dibaca dengan takror (diulang-ulang).

Sifat dan Pola Kegiatan
Kegiatan ini bersiafat terbatas, baik waktu dan jumlah tutor dan peserta. Waktu yang disediakan hanya 4 jam atau dua kali tatap muka dalam se-pekan dengan durasi per jam 45 menit . Tenaga tutornya hanya satu orang dengan membimbing sebanyak 25-30 peserta.
Sedangkan pola kegiatan yang  akan berlangsung berbentuk dua agenda kegiatan, yaitu Pertama : Pengajian kitab Fathul Qorieb, Fathul Mu’in dan Kifayatul Akhyar. Masing-masing dilaksanakan 2 jam atau satu kali tatap muka per-pekan. Kedua  : Pendalaman Materi Nahwu dan Shorrof dengan materi ajar Kaidah Thoriqoh yang berupa talkhish (ringkasan) dari beberapa kitab Nahwu dan Shorrof ‘Imrithy, Alfiyah, Fathul Khobiril Latief, Nadhmu Ma’anil Huruf dan lain-lain. Semua materi ini diajarkan dalam waktu 4 jam atau dua kali tatap muka dalam sepekan selama 3-6 bulan, tergantung dari standar pencapaian target yang ditetapkan. Untuk lebih jelasnya pola kegiatan ini, berikut Jadwal Kegiatannya.

Jadwal Kegiatan

No
Jam
Materi 1
Jam
Materi 2
Ket.
1
45 menit x 2
(1x tatap muka)
Pengajian Kitab
Fathul Qorieb
45 menit x 2
(1x tatap muka)
Pendalaman Talkhish Kaidah Thoriqhoh
1 hari dalam sepekan
2
45 menit x 2
(1x tatap muka)
Pengajian Kitab Fathul Mu’in
45 menit x 2
(1x tatap muka)
Pendalaman Talkhish Kaidah Thoriqhoh
1 hari dalam sepekan
3
45 menit x 2
(1x tatap muka)
Pengajian Kitab Kifayatul Akhyar
45 menit x 2
(1x tatap muka)
Pendalaman Talkhish Kaidah Thoriqhoh
1 hari dalam sepekan

Keterangan :

Untuk pengajian kitab (Materi 1) dimulai dari Muqoddimah hingga akhir Bab ‘Ubudiyah. Sedangkan Pendalam Talkhish Kaidah (Materi 2) diajarkan sampai khatam

Penutup
Demikian ToR singkat  ini dibuat sebagai acuan dasar rencana pelaksanaan kegiatan. Semoga Allah SWT memenuhi rencana dan keinginan kami dengan sempurna dan sukses.


Sumenep, 22 Agustus 2014

Ketua, Yayasan Al Amir
Guluk-Guluk,  Sumenep  Madura



(Drs. H. Muhammad Muhsin Amir)



Rabu, 20 Agustus 2014

                               

      Kisah nyata berikut ini adalah ditulis berdasarkan pada kesaksian penulis sendiri, dengan mata kepala penulis sendiri. Kisah ini menuturkan tentang tatakrama seorang santri sekaligus pelayan (Khodim) bernama Abu Amin, ada yang menyebutkan Bunamin dan ada pula yang memanggilnya Bunyamin. Tapi, sehari-hari ia dipanggil dengan Amin. 
     Hingga saat ini penulis belum mengenal nama ayahnya, ibunya bernama Ambani, wafat tahun 2006 setahun sebelum wafatnya Amin tahun 2007.
        Sejak umur 15 tahun, Amin telah mengabdikan dirinya sebagai khaddam atau pelayan tetap almarhum KH. Moh. Amir Ilyas (wafat tahun 1996), salah seorang ulama waliyullah, mukasyafah di rumah tempat tinggal beliau di desa Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Guluk-Guluk dikenal dengan desa sekaligus Kecamatan santri, karena di desa ini terbilang kurang lebih dari 15 Pesantren dan Madrasah yang jumlah santrinya lebih dari 15.000 an dengan penduduk sebanyak KL. 40.000 orang. Mayoritas ekonomi penduduknya sebagai petani jagung, kedelai dan tembakau. Di desa inilah almarhum KH. Moh. Amir Ilyas hidup bersama keluarga dan 4 putera-puterinya juga bersama seorang Khaddam bernama Amin itu. KH. Amir seorang ulama besar, pengasuh salah satu Pesantren terbesar di Madura bernama Pondok Pesantren Annuqayah. Semasa hidupnya hanya pengabdikan dirinya pada perkembangan pendidikan di Pesantren yang ia asuh. Selain juga ia sebagai musytasyar NU Kabupaten Sumenep dan Syuriyah Partai Persatuan Pembangunan Sumenep.
      Amin yang berbadan semampai atau langsing memang telah nampak tersirat diwajahnya tanda keikhlasan mengabdi kepada gurunya sejak ia masih kanak-kanak. Ia tak pernah mengabaikan patuah-patuah gurunya. Ia senantiasa senang dan merasa dihargai, ketika guru memerintahkan apa saja kepadanya. Ia tak pernah mengeluh dan bimbang untuk mengatakan IA terhadap semua yang dikehendaki gurunya dalam kondisi apapun.
       Pada suatu malam, Kyai Amir terganggu kesehatannya mendadak dan membutuhkan bantuan Amin untuk membelikan obat di Puskesmas kl. 1 km jaraknya dari rumah beliau. Jam ketika itu menunjuk pukul 01.00 malam. Kebiasaan di desa, saat seperti sudah sepi senyap, apalagi PLN ketika itu belum masuk di desa tersebut. Jadi kebanyakan penduduknya istrihat, hingga pagi hari. Amin yang sedang tidur nyeyak dibangunkan oleh salah seorang santri Kyai Amir yang lain agar menghadap beliau. Dengan tanpa ba bi bu ba, Amin langsung mengambil baju dan kopiyahnya beranjak menunju Kyai Amir. Sesampainya dihadapan kyai, ia menyuruhnya untuk membelikan obat ke Puskesmas dengan berjalan kaki. Selang satu jam lamanya, Kyai Amir menunggu, ia tak kunjung datang juga. Rasa waswas tersirat dalam benak kyai,"jangan-jangan ia (Amin) ada kendala dalam perjalannnya", begitu perasaan kyai. kini sudah 2 jam lewat  ia juga belum datang, rasa waswas semakin kuat menekan batinnya. Tapi beberapa menit kemudian, ia datang juga. "Aduuuh, Amin, kok lama sekali", tanya kyai dengan bahasa Madura halus yang sangat kental. "Maaf kiyai, obat tersebut tidak ada di Puskesmas. Jadi terpaksa saya mencari di toko-toko umum. Itupun gak ada toko yang buka di sekitar Puskesmas, maka saya pergi ke Pasar Ganding, mungkin di sana ada, tapi ternyata tidak toko yang buka. Tapi Alhamdulillah, saya menemukan obat tersebut di sebuah toko milik teman saya di daerah Larangan, Ganding, dan saya membangunkan pemiliknya hanya kepentingan membeli tablet itu", begitu bilangnya dengan sangat sopan dihadapan kyai Amir yang menunggunya selama kl. 2 jam lamanya.
      Peristiwa di atas terjadi pada akhir tahun 80-an, katika itu PLN masih belum normal 100 % menyala di desa Guluk-Guluk. Kadang-kadang menyala, kadang-kadang padam. Maklum, masih menggunakan jenset dan belum menjangkau ke seluruh kampung di desa ini. Begitu pula mobil angkutan desa masih jarang adanya, lebih-lebih pada tengah malam. Namun semangat pengabdian yang ikhlas dan luar biasa bagi Amin tak pernah padam dan surut walau kondisi seperti ini.
       Setelah obat tablet yang hanya dua biji itu adanya diserahkan kepada kyai Amir, kini Amin tidak kembali melanjutkan tidur di rumahnya lagi, tapi ia mengambil air wudhu' untuk menunaikan shalat Tahajjud dan mengaji Al Qur'an di Musholla milik Kyai Amir yang kini bernama "Msuholla Al Amir" terletak di pekarang rumah kyai Amir. Selanjutnya ia berdzikir sampai tiba waktu shalat subuh berjama'ah bersama beberapa santri lainnya dengan Imam-nya adalah kyai Amir.
       Kisah terakhir yang paling menyentuh kalbu penulis adalah keihklasan dan kesabarannya dalam menjalankan semua perintah Kyai Amir sekeluarga. terbukti ketika dia disuruh menyampaikan surat undangan kepada 150 orang kepada masyarakat di desa Guluk-Guluk yang rumahnya berlainan kampung. Ia tidak minta bantuan kepada orang lain, karena ia merupakan amanah yang harus dia jalankan sendiri. Ada sebuah desa yang jauh dari rumah tempat tinggalnya, kira-kira 2 km jaraknya, yaitu kampung minumih dan bahkan ada yang di luar kecamatan Guluk-Guluk, yaitu Pragaan. Sang Kyai lupa memberi uang ongkos transport naik angkot, dan Amin mengira bahwa ia dilarang naik angkot, maka ia menyampaikan surat undnagan tersebut kepada 150 orang dilakukan selama satu hari dan setengah malam dengan berjalan kaki dari desa ke desa atau kampung ke kampung. Ia memulai dari kampung yang paling jauh kemudian yang paling dekat. Alhamdulillah, semua amanah itu dilakukan dengan sempurna dan nampak di wajahnya perasaan sumeringah (senang dan berseri-seri), karena ia telah melaksanakan perintah kyai dengan sempurna dan baik, walaupun harus dilalui dengan cukup melelahkan. Namun ia tak mengeluh apalagi merasa berat melaksanakan amanah tersebut. Kini Pak Amin sudah meninggalkan kita sejak 7 tahun yang silam. Tinggal namamu terukir dalam kalbu kami, rasa ilkhlas yang tertanam dalam jiwamu menjadi kenangan manis yang tak pernah kami lupakan dan semoga kami dapat menirumu, Amin. Kini Pak Amin itu dikenal masyarakat sekitarnya dengan sebutan manusia tak bertulang, karena kelemah lembutannya dan kesiapannya melaksanakan perintah Kyia Amir sang Waliyullah itu dengan ikhlas penuh, kapanpun dan dimanapun. Itulah hakikat Akhlakul Karimah. Selamat jalan Pak Amin, semoga Allah akan memberi balasan tempat yang menyenangkan buat kamu sebab pengabdianmu yang tak kenal situasi dan kondisi.  (Pen. Muhsin Amir)

Senin, 14 Juli 2014


>>                                زيارةالإمام الشافعي الإمام أحمدحنبل   << 
 
      زارالإمام الشافعي رحـمه الله تعالى إلى دار الإمام أحمد بـن حنبل . كانت للإمام أحمد ابنة صالحـة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب على سماع موعظة الصالحين أرادت أن تـرى الشافعي لتعظيم أبيهـا إليه دائما، فلما زار الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً وحرصا بـأن تـرى أفعالـه وتسمعَ مقالـه وبعدما تناوَلَ العَشاء قام الإمام أحمد الليل، والإمام الشافعي حينذاك مادام مستلقـيا عـلى ظـهره فى الغرفة بدار الإمام أحمد، والبنت ترقُبـه حتى الفـجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها : يا أبتاه أهذا هو الشافعي الذي كنتَ تحدثني عنـه وتُعظّمه دائما ؟ قال : نعم يا ابنتي .فقالت : سمعتك أنك تعظّمُـه وما رأيت عـليه يقـوم إلى الصلاة هذه الليلة وقد لا حظتُ عليه ثلاثة أمور عجيـبة ، قال : وما هي يا ابنتى ؟ قالت : إنه عندما قدِمنا له الطعام أكل كثيراً على خـلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم لقيام الليل، وعندما صلى بـنا الفجر صلى من غـير وضوء. فلـما طلع النهار وجلسا للحديث ذَكـرَ الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظــتْه إبنـته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله :يـا أبـا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك حلال ، يشتمل فيه دواء، وما أكلت لأشبَع وإنما لِأَتداوَى بطعامك، وأما أنني لم أقـم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت الكـتاب والسنة أمامي ففتح الله عـليّ باثنتين وسبعين مسألة من عـلوم الفقه ، فحـوّل الفكـرُ بهـا بيني وبين قيام الليل، وأما أنني صليت الفجر بغير وضوء عند بنتكَ، فوالله ما نامت عينيّ. لقد بقَيت طوال الليل يقظاناً،فصليت بـكم الفجر بوضوء العشاء. فقال الإمام أحمد لابنـته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة .